Senin, 19 Desember 2016

Sang Pedekar Alam



Matahari mulai kebarat. Namun masih siang hari. Angin berhembus membelai suasana. Dingin. Letihnya menaiki tangga-tangga alam menjadi samar. Subhanallah. Dari sini kulihat mobil bak semut-semut kecil yang merayap. Rembuyungan daun yang menghinggap di batang-batang bakjamur jamur hijau. Semua terlihat kecil.

Jalan beraspal yang bercabang di bawah sana menjadi seperti jalan setapak untuk semut-semut mungil. Alam ini menjadi begitu kecil. Di depanku, gagah nian. Sebuah gundukan  tanah  yang memucuk. Di setiap rautnya gelap

 Masih tinggi lagi aku harus menapaki tangga ini. Pohon-pohon di pinggirku meneduhkan tatapan malaku dari gemilau sang mentari. Awan putih menghiasi langit yang berwarna laut. Kabut yang tertiup mendinginkan suasana lebih lagi. Aku merindukan suasana itu. Ketika sang pencipta mempertemukanku dengannya, Sang Pendekar Alam. Gunung Merapi.

Ketika FPD Menghilang




Pagi ini aku berangkat ke sekolah lebih awal. Sekitar pukul 06.00 aku sudah sampai di kelas. Satu anak kelasku sedang duduk di bangkunya melantunkan ayat-ayat al-qur’an. Tak merespon aku yang baru datang. Aku mengambil 3 kertas yang telah tercetak kop surat di atasnya. Kemudian aku melirik ke arah jam dinding. Ah, masih terlalu pagi. Aku menunggu hari mulai memanas.

Setetah 45 menit kemudian,  aku menuruni anak tangga menuju ruangan bimbingan konseling. Aku berharap Ustadzah Sumarsih telah datang. Aku memasuki ruangan itu dan kemudian meminta tandatangannya. Sebentar kemudian aku keluar lagi membawa kertas yang sama. Aku menaiki anak tangga untuk mengikuti pelajaran hari itu.

Jam istirahat tiba. Aku berlari kecil menuju masjid. Berharap ada teman yang duduk dekat dengan kain di tengah masjid yang biasa di sebut “hijab” oleh siswa sekolahku. Kuhampiri temanku itu. Kuminta dia memanggil seseorang. Namun ternyata lama sekali yang aku panggil itu. Bel masuk telah berbunyi. Jantungku berdegup cepat. Aku masih duduk di samping hijab. Berharap seseorang datang dan memanggil namaku. Antara perasaan ingin segera masuk kelas dan perasaan kasihan jika yang aku panggil tidak menemukanku di hijab padahal sudah bel masuk.

“Ni’am,” uh, akhirnya suara itu

“Ya. Ini ada Formulir Pengajuan Dana dan Proposal. Kamu tandatangan saja dulu. Kemudian kamu mintakan tandatangan ke Ustadz. Pokoknya dari atas paling kanan ke kiri. Ngerti nggak?” jelasku langsung banyak.

“Yes,” katanya.

“Habis itu, kamu kasihin proposalnya ke aku lagi ya!”

“Ya!”

“Ini juga ada Formulir Pengajuan Dana, kamu pegang aja buat jaga-jaga kalo di tanyain.”

Diam... Kuselipkan kertas itu ke sebalik hijab.

“Oke, aku masuk!” kemudian meninggalkan masjid untuk mengikuti pelajaran hari itu.

Siang telah berlalu. Mendungpun mulai menaungi langit di atas atap sekolah. Hari itu ku ada rapat komisi. Tiba-tiba ketika tengah menikmati tenggangnya rapat.

“Ini Formulir Pengajuan Dananya mana ya?” derr!!! Panas! Wajahku merah. Gugup langsung diriku.

“Lho, tadi pagi bukannya sudah aku berikan?” menyebalkan, tak ada yang menjawab. Semua melihat ke arahku.

Aku pulang dengan perasaan emosi dan tidak terima. Kacau. Hari itu berlalu.

“Hmm... gimana? Formulirnya jadi hilang tidak?” kataku pelan tapi jelas.

Sreet....
Suara sesuatu. Hijabnya bergoyang.

“Alhamdulillah ya Allah!” aku tersenyum kemenangan.

“Kamu nemuin di mana?” lanjutku

“Terselip di waktu aku minta tanda tangan,” katanya.
:)

Jumat, 16 Desember 2016

Dua Belas Bulan

Ingatkah kau kawan, waktu dulu?
Kita berbaring di berandamu
Sepertinya awan menggelabu
Merindu lautan dan langit biru


Hujan turun
Canda bersama
Hujan turun
Ikut irama

Ingatkah kau kawan, waktu dulu?
Kita berlarian di khayalanmu

Tik tik tik bunyi hujan di atas genting
Tik tik tik bunyi hujan di atas genting

Teman Imaji-tentang anak kota hujan

Pantai Kuta


Bali adalah kota penuh kenangan indah. Miss you

#gajeam

EnamBelas Desember 2016

Seorang anak remaja duduk di dekat jendela kamarnya. Dia termenung menatap ayam sedang mematuki tanah. Seragam sekolahnya belum terlepas dari badannya sejak siang tadi.

Sore itu langit tampak gelap. Biru donker agak ke-abu-abuan adalah warna latar. Tiada lagi mega oren yang menyemburat di ufuk timur. Benar benar gelap tertutup awan hitam.

Fafa, itulah namaku. Aku terkejut oleh smartphoneku yang menyala. Di bagian atas layar berkedip-kedip tulisan. ahh... apa sih? orang kuker. Sudah penuh juga beranda ini.

Akhirnya hujan turun juga. Mengguyur tanah yang belum sempat kering oleh hujan semalaman. Suara terjun sang air hujan memecah keheningan senja hari itu.

Aku menuruni kursi yang kududuki. Kuhampiri meja yang berdiri tegak di sudut kamarku. Meraih flashdisk putih dan laptop yang masih tertutup di atas meja. Kemudian kubawa ke dekat jendela kamar

Aku menghidupkan laptop. Setelah laptop siap dipakai. Kutancapkan flashdisk putih itu. Tidak sampai satu menit flashdisk sudah ter-scan sempurna.

Terlihat, muncul warna putih hampir memenuhi layar laptop. Kumainkan jemariku di atas keyboard laptop. Terkadang aku berhenti untuk memikirkan sesuatu. Kemudian aku terus mengetiknya dan terjadi berulangkali.

"Kakak! ayo mandi dulu! sudah hampir jam lima, Kakak sudah sholat asar belum tadi?"

"Sudah mi!" teriakku dari kamar. huft! sudah gelap, hujan, dingin. Sebenarnya aku malas sekali meninggalkan benda di depanku ini. Tapi, baiklah sebelum hawa makin membirukan bibir.

Akhirnya aku mandi dan segera meneruskan tulisanku. Tak lama kemudian, adzan maghrib berkumandang. Rintik air hujan agak meringan. Aku kembali meninggalkan laptopku. Kumatikan powernya karena malam telah mengejar senja. Aku akan menggunakan malam ini untuk membuka buku-buku pelajaranku. Tak ada waktu untuk menyentuh laptop lagi.

Malam telah berlalu, dan pagi telah menyongsong di ufuk. Mendung pun telah ikut berlalu.

Hari ini aku pulang agak awal. Masih pada kesibukan yang sama. Sebenarnya aku sedang membuat slide untuk hadiah ulangtahun Wao.

Sejujurnya aku tidak yakin akan memberikan ini ke Wao. aku telah memutuskan untuk mengubur semua kenangan itu dan hijrah, tetapi entah kenapa aku masih sering me-nge-stalk profilnya dan berharap Wao tetap berada di pihakku. Terkadang aku dan Wao berbalas pembaruan di beranda. Entah Wao peka atau tidak. Tapi, mungkin hanya aku yang terlalu berharap. Atau kemungkinan aku yang ke-pede-an saja. Mana mungkin Wao tetap di pihakku.

Yahh.. akhirnya sore itu jadi sudah slidenya. Aku PUAS plus LELAH. Tapi tak apalah. Besok akan aku post di youtube. Dan aku akan beri kode-kode untuk Wao.

Malam harinya aku tidur agak awal.

Penglihatanku buram. Ku kucek mata sipitku itu. jam berapa ini? sepi sekali. Aku menurunkan tubuh malasku dari ranjang. Kemudian kuambil air wudu. Seperti biasa, aku menunaikan qiyamul-lail.

Aku termenung. kembali teringat pada 108 slide yang kukerjakan hari demi hari. Aku berdiri menuju balkon Bulan purnama malam ini cerah, semerbak bintang di sekitarnya. Begitu indah. Samar-samar, aku mulai mengingat wajah Wou. Apakah Wou sedang melihat bulan juga malam ini di sana? Wou..... aku ingin bertemu denganmu.

Aku jadi teringat hari perpisahan. Ini benar benar perpisahan yang nyata. Hari itu aku mengucapkan kalimat-kalimat terakhir. Dan aku benar-benar meminta maaf. Aku benar-benar kalut. Air mataku menetes.Dan malam itu juga aku kembali meneteskan air mataku yang ke-sekian kalinya.

Aku tau kenapa aku melakukan semua itu. Bukan hanya untukku. Tapi untuknya jua, Wou. Seandainya Wou bisa mengerti apa yang aku makhsud.

Semburat fajar kelu menyongsong lagi. Jum'at, 16 Desember 2016. Ya, hari ini. Hari ini adalah hari yang kutunggu. Dan mungkin sangat Wou nantikan. Aku yakin sekali. Bagaimana aku bisa tidak yakin dengan semua fakta-fakta ini?

Jelas saja. Sesungguhnya aku tidak ingin membuat Wou bersedih. Dia telah memberiku banyak. Menemani aku setiap lekuk hidupku. Aku tak ingin membuatnya kecewa. Mungkin setiap malam dia menanti hari ini. Menanti hal menarik dariku.

Namun, maafkan aku Wou. Aku tak mungkin menghianati apa yang telah ku katakan. Aku akan terus menjaga batasan-batasan ini.

Aku benar-benar meminta maaf. Hari itu aku tak memberi apapun padanya. 108 slide itu tak jadi aku post. Hanya do'a yang tetap terus bersamamu.

Semoga kamu panjang umur. Sehat selalu. Semakin berbakti pada ibu dan bapak. Tambah dewasa. Berbahagialah selalu. Selamat ulangtahun!! Salam HOROK!!
"Barakallah fii umrik," oh ya... salam buat adek kamu. salam sayang dan rindu. jangan bosan main sepeda dan ganggu kakak kamu ya... Tak dukung dek..! #peace

Kutulis ucapan itu dalam buku harianku. Tak ada yang perlu dikirim. Allah akan mengirimkan suatu saat nanti.

Maaf ya reader, agak gaje ceritanya

Rabu, 14 Desember 2016

Sepatu Sebelah


            Ayahku adalah seorang tukang sepatu yang setiap hari berkeliling kota untuk memperbaiki sepatu orang. "Sepatu jebol bisa... Sepatunya yang rusak antar saja kemarin. Kami perbaiki dengan sepenuh hati," itulah kalimat yang biasa aku dengar ketika aku bertemu anak Genk Duby. Mereka selalu mengejekku dengan kalimat yang ada di keranjang pekerjaan ayahku.
                                                         
Seperti biasa, aku hanya dapat diam dengan kalimat itu. Biasanya Rona yang akan membelaku saat Genk Duby mulai keterlaluan. Rona adalah sahabatku yang mau menerimaku apa adanya. Setiap saat dia ada untukku.

Suatu hari ayah pulang dadi keliling kota untuk bekerja. Tidak seperti biasanya, beliau pulang lebih malam dari biasanya. Kulihat beliau menggantung plastik besar di tangan kanannya. Wajahnya letih tetapi bersinar. "Ayah sedang bahagia," Pikirku. Kutanyakan pada ayah, ternyata ayah mendapatkan pesanan banyak. Itulah kebahagiaan ayahku yang sederhana.

Kemudian hari-hari selanjutnya, ayah selalu pulang malam. Dan rasanya semakin malam saja. Mungkin ayah memiliki banyak pesanan akhir-akhir ini. Makanya aku tidak menanyakan pada ayah.

Suatu hari ketika aku berangkat sekolah, semua temanku melihatku dengan pandangan sinis. Aku tidak tahu mengapa mereka melihatku seperti itu. Tidak ada yang mendekatiku. Bahkan Rona pun terlihat tidak peduli padaku. Dia sibuk dengan buku novelnya.

Aku memutuskan untuk berjalan keluar mencari teman. Dari jauh terlihat anak Genk Duby berjalan melawan arah dariku. Sebenarnya aku malas bertemu mereka. Tapi, yahh masa aku harus balik kanan maju jalan. Gak jelas banget. Ntar apa kata mereka?

Aku terus berjalan maju. Dan, "aduhh!" aku terjatuh. Tersandung kaki salah satu anak dari Genk Duby. "Kalau jalan lihat-lihat dong! anak tukang sepatu yang sekarang sudah jadi maling sepatu!"

"Hey! kalau bicara dijaga dong! ayahku memang tukan sepatu. Tapi kalian tidak berhak menyebut ayahku maling. Ayahku tidak pernah mengambil barang milik oranglain," sanggahku spontan pada mereka. Aku tidak terima ayahku dihina seperti itu. Kemudian aku berlari menuju taman sekolah. Aku merasa sakit dihina seperti itu tadi. Air mataku mengalir. Aku juga tidak memiliki teman. Aku merasa sendirian. Rona, sahabatku sudah kemana dia?

Sepulang sekolah aku tidak menjumpai ibu dirumah. Biasanya ibu yang menyuruhku makan siang. Hari ini sepi sekali. Hidupku menjadi semakin sepi.

Lagi-lagi ayah pulang malam. ibu belum sampai dirumah. Sesampainya dirumah, ayah membasuh muka, kemudian mengambil handuk untuk mandi. Begitulah ayah setiap harinya. Tapi ada yang berbeda dari biasanya. Biasanya ayah menjahit sepatu-sepatu dari langgananya, tapi malam ini ayah langsung tidur.

"tok-tok-tok," suara pintu diketuk, minta dibukakan. Mungkin itu ibu. Aku bergegas membukakan pintu. Benar saja itu ibu. Tetapi ada apa ibu?

"Dimana ayahmu?" tanya ibu kepadaku.

"Tidur, bu," jawabku pelan. Aku takut ayah terganggu.

Ibu masuk dan berlangkah cepat menghampiri ayah. entah kenapa aku juga tidak tahu. Sebuah barang pecah terdengar dari dalam. Teriakan-teriakan yang tersamarkan anginnya malam bersahutan. Aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana.

Aku bingung, apakah aku harus masuk dan melerai kedua orangtuaku? atau aku harus diam disini tanpa mengerti apa yang terjadi.

Akhirnya aku masuk juga. Kulihat ayah membawa pisau di tangannya. Lantai penuh dengan kepingan barang yang telah pecah. Ibu berdiri di smaping pintu seakan-akan ingin keluar kamar. Bak kapal pecah di kamar itu. Pemandangan ini membuatku takut. Tapi aku berusaha berani.

"Ayah! apa ini semua?" hening, tidak ada yang bergerak selain aku. Kuhampiri ibu yang menangis di dekat pintu. "Ibu," kulihat ayah pergi keluar kamar tanpa menatap kami.

"Nak! ayahmu telah mencuri sepeda motor milik Pak Lurah," spontan aku lemas. Aku tidak menyangka Ayah akan melakukan hal sekeji itu. Perbuatan yang dikatakan oleh anak Genk Duby tadi memang di lakukan oleh ayahku. Aku merasa sangat malu. Ayah telah mencemarkan nama keluarga. Bagaimana aku bisa memiliki seorang teman jika ayah telah melakuka semua ini?

Kemudian, aku meninggalkan ibu. Aku berlari ke kamar dan menangis. Karena sudah malam, aku tertidur hingga pagi.

Pagi harinya aku berangkat sekolah tanpa semangat. Hanya ibu yang aku salami. Aku tidak ingin bicara dan menyapa ayah. Aku malu meiliki ayah seorang pencuri.

Seperti hari-hari sebelumnya, aku selalu sendirian di sekolah. Tidak ada yang mau menyapaku apalagi bersamaku. Aku benar-benar kesepian.

Sepulang sekolah aku mendapati ibu sedang memasak. Bau harum masakan ibu membuatku lapar. Aku segera makan. Seperti biasa, ayah pasti belum pulang. Ah apa peduliku? aku tidak punya ayah lagi.

Malam ini aku tidur agak cepat karena tidak ada tugas yang harus aku selesaikan.

Pahi harinya tidak kudapati ayah di rumah. Mungkin ayah telah berangkat bekerja. "Nak! ayah belum pulang sejak kemarin," kata ibu pelan padaku.

"Ah biarlah, ayah bukan ayahku yang dulu lagi," kataku pada ibu. "Tapi nak, ayah tetap ayahmu sampai kapanpun." "Aku tidak suka pada ayah bu! ayah membuatku tidak memiliki teman. setiap hari aku di olok-olok oleh temanku. aku malu," pagi itu kami berdebat.

Aku pergi sekolah hari itu. Sepulang sekolah aku tidak langsung menuju rumah. Akhirnya aku pulang agak malam.

Aku memasuki kamar tidurku. Kubanting tubuhku di ranjang. Kulihat kotak hitam di jendela kamarku yang masih terbuka. Aku berdiri dan mengambil kotak hitam itu. Aku buka pelan. Sebuah sepatu warna pink terlihat dari luar.

"Apa ini?" pikirku, Aku semakin penasaran. Ada secarik kertas di kotak itu. kubuka pelan-pelan.

Nak selamat  ulangtahun ya. Maafkan ayah sudah membuatmu sedih karena tidak memiliki teman. Karena ayah, teman-temanmu memperolokkan kamu. Ayah memang telah mengambil sepeda motor Pak Lurah. Ayah ingin membelikan sepatu untuk sekolahmu. Karena ayah paham kamu tidak pernah memiliki sepatu baru. Hanya sepatu-sepatu bekas pelanggan ayah yang kamu pakai. Jikalau punya pun, ketika rusak ayah terus menjahitnya dengan benang tebal ayah. Ayah tau kamu merindukan sepatu baru. Ayah ingin mewujudkannya di ulangtahunmu kali ini. Tetapi hanya sepatu sebelah kanan yang dapat ayah berikan padamu. Sebenarnya ayah telah membeli sepasang sepatu. Namun, sepatu yang satu hilang ketika ayah di kejar warga. dan semoga kamu bahagia dengan sepatu ini. Maafkan ayah! Auah malu padamu nak! Sekali lagi, selamat ulangtahun nak! Semoga kamu panjang umur. Sehat selalu dan jangan menjadi seperti ayah

Air mataku mengalir membasahi pipiku kurauh sepatu itu dan kupeluk. Ayahhh...... []


Hehe... Maap ya sobat, ana lagi gaje. gak nyambung ceritanya, nggantung pula... mati lampu lagi... yuhhhh... dah dah #bersyukur am am ! #semangat
:) hihi


Selasa, 13 Desember 2016

Pamit - Tulus




Tubuh saling bersandar
Ke arah mata angin berbeda
Kau menunggu datangnya malam
Saat kumenanti fajar

Sudah coba berbagai cara
Agar kita tetap bersama
Yang tersisa dari kisah ini
Hanya kau takut kuhilang

Perdebatan apapun menuju kata pisah
Jangan paksakan genggamanmu

Izinkan aku pergi dulu
Yang berubah hanya
Tak lagi kumilikmu
Kau masih bisa melihatku
Kau harus percaya
Kutetap teman baikmu

Sudah coba berbagai cara
Agar kita tetap bersama
Yang tersisa dari kisah ini
Hanya kau takut kuhilang

Perdebatan apapun menuju kata pisah
Jangan paksakan genggamanmu

Yang berubah hanya
Tak lagi kumilikmu

Kau harus percaya
Kutetap teman baikmu

Izinkan aku pergi dulu
Yang berubah hanya
Tak lagi kumilikmu
Kau masih bisa melihatku
Kau harus percaya
Kutetap teman baikmu