Senin, 19 Desember 2016

Ketika FPD Menghilang




Pagi ini aku berangkat ke sekolah lebih awal. Sekitar pukul 06.00 aku sudah sampai di kelas. Satu anak kelasku sedang duduk di bangkunya melantunkan ayat-ayat al-qur’an. Tak merespon aku yang baru datang. Aku mengambil 3 kertas yang telah tercetak kop surat di atasnya. Kemudian aku melirik ke arah jam dinding. Ah, masih terlalu pagi. Aku menunggu hari mulai memanas.

Setetah 45 menit kemudian,  aku menuruni anak tangga menuju ruangan bimbingan konseling. Aku berharap Ustadzah Sumarsih telah datang. Aku memasuki ruangan itu dan kemudian meminta tandatangannya. Sebentar kemudian aku keluar lagi membawa kertas yang sama. Aku menaiki anak tangga untuk mengikuti pelajaran hari itu.

Jam istirahat tiba. Aku berlari kecil menuju masjid. Berharap ada teman yang duduk dekat dengan kain di tengah masjid yang biasa di sebut “hijab” oleh siswa sekolahku. Kuhampiri temanku itu. Kuminta dia memanggil seseorang. Namun ternyata lama sekali yang aku panggil itu. Bel masuk telah berbunyi. Jantungku berdegup cepat. Aku masih duduk di samping hijab. Berharap seseorang datang dan memanggil namaku. Antara perasaan ingin segera masuk kelas dan perasaan kasihan jika yang aku panggil tidak menemukanku di hijab padahal sudah bel masuk.

“Ni’am,” uh, akhirnya suara itu

“Ya. Ini ada Formulir Pengajuan Dana dan Proposal. Kamu tandatangan saja dulu. Kemudian kamu mintakan tandatangan ke Ustadz. Pokoknya dari atas paling kanan ke kiri. Ngerti nggak?” jelasku langsung banyak.

“Yes,” katanya.

“Habis itu, kamu kasihin proposalnya ke aku lagi ya!”

“Ya!”

“Ini juga ada Formulir Pengajuan Dana, kamu pegang aja buat jaga-jaga kalo di tanyain.”

Diam... Kuselipkan kertas itu ke sebalik hijab.

“Oke, aku masuk!” kemudian meninggalkan masjid untuk mengikuti pelajaran hari itu.

Siang telah berlalu. Mendungpun mulai menaungi langit di atas atap sekolah. Hari itu ku ada rapat komisi. Tiba-tiba ketika tengah menikmati tenggangnya rapat.

“Ini Formulir Pengajuan Dananya mana ya?” derr!!! Panas! Wajahku merah. Gugup langsung diriku.

“Lho, tadi pagi bukannya sudah aku berikan?” menyebalkan, tak ada yang menjawab. Semua melihat ke arahku.

Aku pulang dengan perasaan emosi dan tidak terima. Kacau. Hari itu berlalu.

“Hmm... gimana? Formulirnya jadi hilang tidak?” kataku pelan tapi jelas.

Sreet....
Suara sesuatu. Hijabnya bergoyang.

“Alhamdulillah ya Allah!” aku tersenyum kemenangan.

“Kamu nemuin di mana?” lanjutku

“Terselip di waktu aku minta tanda tangan,” katanya.
:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar