Pagi buta itu. Tak sedingin pagi pagi biasanya yang kulalui di negeri lereng merapi. Aku terbangun ketika yang lain belum juga menguap. Aku memandangi setiap sudut plafon.
Hari dimana aku menginjakkan kakiku di Negeri Ilmu ini. Aku selalu berharap di negeri ini mendapatkan dua cahaya. cahaya pengetahuan dan cahaya hati yang memancar pada raut raut wajahku, pada setiap kata yang terlontar dari mulutku, pada setiap yang tampak pada penglihatan dan yang kurasa dalam batinku yang sejuk.
Dan pada hari itu. Aku bisa mengakui bahwa setiap insan yang masuk ke negeri ini akan berucap syukur tak henti henti bagi yang terpaksa.
Tak tanggungpun. Aku yang terpaksa ini pun bisa mengucap syukur. Mungkin karena aku telah merasakan sinar temaram itu yang membuatku teduh.
Hari dimana aku mulai mengenal kebaikan yang besar yang selama tiga tahun ini aku tak pernah melihatnya lagi. Sebutir butir mutiara indah masuk ke jiwaku. Dalam relung hatiku yang sebenarnya aku bisa mengerti dan mampu menerima. Aku mulai mencintai.
Seluruh penghuni alam, rasanya aku ingin memandang diriku sendiri dan mengutukinya. Kemana aku selama 3 tahun ini ? Sinar jalan yang harusnya telah aku tempuh kini baru kutemukan disini. Aku benar benar tak tahu kemana aku harus berkutik.
Aku selalu membayangkan hal yang buruk kemarin kemarin. Tapi disini aku seperti
mendapatkan cinta baru yang indah, yang teduh.
Aku mendapat makna kedua hari itu,
Cahaya kebaikan tak pernah nyata bila dibayangkan dengan keburukan. Nyatanya ia akan bersinar tanpa putus menyinari setiap insan yang dilanda kegelapan. Cahaya itu bersama cinta, kasih sayang dan ketulusan. Setiap maknanya akan menentramkan hati yang gundah, menyejukkan perasaan yang kalut. Dan ia tak akan pernah pergi dari setiap harapan apapun, ia membersamai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar