Seorang anak remaja duduk di dekat jendela kamarnya. Dia termenung menatap ayam sedang mematuki tanah. Seragam sekolahnya belum terlepas dari badannya sejak siang tadi.
Sore itu langit tampak gelap. Biru donker agak ke-abu-abuan adalah warna latar. Tiada lagi mega oren yang menyemburat di ufuk timur. Benar benar gelap tertutup awan hitam.
Fafa, itulah namaku. Aku terkejut oleh smartphoneku yang menyala. Di bagian atas layar berkedip-kedip tulisan. ahh... apa sih? orang kuker. Sudah penuh juga beranda ini.
Akhirnya hujan turun juga. Mengguyur tanah yang belum sempat kering oleh hujan semalaman. Suara terjun sang air hujan memecah keheningan senja hari itu.
Aku menuruni kursi yang kududuki. Kuhampiri meja yang berdiri tegak di sudut kamarku. Meraih flashdisk putih dan laptop yang masih tertutup di atas meja. Kemudian kubawa ke dekat jendela kamar
Aku menghidupkan laptop. Setelah laptop siap dipakai. Kutancapkan flashdisk putih itu. Tidak sampai satu menit flashdisk sudah ter-scan sempurna.
Terlihat, muncul warna putih hampir memenuhi layar laptop. Kumainkan jemariku di atas keyboard laptop. Terkadang aku berhenti untuk memikirkan sesuatu. Kemudian aku terus mengetiknya dan terjadi berulangkali.
"Kakak! ayo mandi dulu! sudah hampir jam lima, Kakak sudah sholat asar belum tadi?"
"Sudah mi!" teriakku dari kamar. huft! sudah gelap, hujan, dingin. Sebenarnya aku malas sekali meninggalkan benda di depanku ini. Tapi, baiklah sebelum hawa makin membirukan bibir.
Akhirnya aku mandi dan segera meneruskan tulisanku. Tak lama kemudian, adzan maghrib berkumandang. Rintik air hujan agak meringan. Aku kembali meninggalkan laptopku. Kumatikan powernya karena malam telah mengejar senja. Aku akan menggunakan malam ini untuk membuka buku-buku pelajaranku. Tak ada waktu untuk menyentuh laptop lagi.
Malam telah berlalu, dan pagi telah menyongsong di ufuk. Mendung pun telah ikut berlalu.
Hari ini aku pulang agak awal. Masih pada kesibukan yang sama. Sebenarnya aku sedang membuat slide untuk hadiah ulangtahun Wao.
Sejujurnya aku tidak yakin akan memberikan ini ke Wao. aku telah memutuskan untuk mengubur semua kenangan itu dan hijrah, tetapi entah kenapa aku masih sering me-nge-stalk profilnya dan berharap Wao tetap berada di pihakku. Terkadang aku dan Wao berbalas pembaruan di beranda. Entah Wao peka atau tidak. Tapi, mungkin hanya aku yang terlalu berharap. Atau kemungkinan aku yang ke-pede-an saja. Mana mungkin Wao tetap di pihakku.
Yahh.. akhirnya sore itu jadi sudah slidenya. Aku PUAS plus LELAH. Tapi tak apalah. Besok akan aku post di youtube. Dan aku akan beri kode-kode untuk Wao.
Malam harinya aku tidur agak awal.
Penglihatanku buram. Ku kucek mata sipitku itu. jam berapa ini? sepi sekali. Aku menurunkan tubuh malasku dari ranjang. Kemudian kuambil air wudu. Seperti biasa, aku menunaikan qiyamul-lail.
Aku termenung. kembali teringat pada 108 slide yang kukerjakan hari demi hari. Aku berdiri menuju balkon Bulan purnama malam ini cerah, semerbak bintang di sekitarnya. Begitu indah. Samar-samar, aku mulai mengingat wajah Wou. Apakah Wou sedang melihat bulan juga malam ini di sana? Wou..... aku ingin bertemu denganmu.
Aku jadi teringat hari perpisahan. Ini benar benar perpisahan yang nyata. Hari itu aku mengucapkan kalimat-kalimat terakhir. Dan aku benar-benar meminta maaf. Aku benar-benar kalut. Air mataku menetes.Dan malam itu juga aku kembali meneteskan air mataku yang ke-sekian kalinya.
Aku tau kenapa aku melakukan semua itu. Bukan hanya untukku. Tapi untuknya jua, Wou. Seandainya Wou bisa mengerti apa yang aku makhsud.
Semburat fajar kelu menyongsong lagi. Jum'at, 16 Desember 2016. Ya, hari ini. Hari ini adalah hari yang kutunggu. Dan mungkin sangat Wou nantikan. Aku yakin sekali. Bagaimana aku bisa tidak yakin dengan semua fakta-fakta ini?
Jelas saja. Sesungguhnya aku tidak ingin membuat Wou bersedih. Dia telah memberiku banyak. Menemani aku setiap lekuk hidupku. Aku tak ingin membuatnya kecewa. Mungkin setiap malam dia menanti hari ini. Menanti hal menarik dariku.
Namun, maafkan aku Wou. Aku tak mungkin menghianati apa yang telah ku katakan. Aku akan terus menjaga batasan-batasan ini.
Aku benar-benar meminta maaf. Hari itu aku tak memberi apapun padanya. 108 slide itu tak jadi aku post. Hanya do'a yang tetap terus bersamamu.
Semoga kamu panjang umur. Sehat selalu. Semakin berbakti pada ibu dan bapak. Tambah dewasa. Berbahagialah selalu. Selamat ulangtahun!! Salam HOROK!!
"Barakallah fii umrik," oh ya... salam buat adek kamu. salam sayang dan rindu. jangan bosan main sepeda dan ganggu kakak kamu ya... Tak dukung dek..! #peace
Kutulis ucapan itu dalam buku harianku. Tak ada yang perlu dikirim. Allah akan mengirimkan suatu saat nanti.
Maaf ya reader, agak gaje ceritanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar