Ayahku adalah seorang tukang sepatu yang setiap hari berkeliling kota untuk memperbaiki sepatu orang. "Sepatu jebol bisa... Sepatunya yang rusak antar saja kemarin. Kami perbaiki dengan sepenuh hati," itulah kalimat yang biasa aku dengar ketika aku bertemu anak Genk Duby. Mereka selalu mengejekku dengan kalimat yang ada di keranjang pekerjaan ayahku.
Suatu hari ayah pulang dadi keliling kota untuk bekerja. Tidak seperti biasanya, beliau pulang lebih malam dari biasanya. Kulihat beliau menggantung plastik besar di tangan kanannya. Wajahnya letih tetapi bersinar. "Ayah sedang bahagia," Pikirku. Kutanyakan pada ayah, ternyata ayah mendapatkan pesanan banyak. Itulah kebahagiaan ayahku yang sederhana.
Kemudian hari-hari selanjutnya, ayah selalu pulang malam. Dan rasanya semakin malam saja. Mungkin ayah memiliki banyak pesanan akhir-akhir ini. Makanya aku tidak menanyakan pada ayah.
Suatu hari ketika aku berangkat sekolah, semua temanku melihatku dengan pandangan sinis. Aku tidak tahu mengapa mereka melihatku seperti itu. Tidak ada yang mendekatiku. Bahkan Rona pun terlihat tidak peduli padaku. Dia sibuk dengan buku novelnya.
Aku memutuskan untuk berjalan keluar mencari teman. Dari jauh terlihat anak Genk Duby berjalan melawan arah dariku. Sebenarnya aku malas bertemu mereka. Tapi, yahh masa aku harus balik kanan maju jalan. Gak jelas banget. Ntar apa kata mereka?
Aku terus berjalan maju. Dan, "aduhh!" aku terjatuh. Tersandung kaki salah satu anak dari Genk Duby. "Kalau jalan lihat-lihat dong! anak tukang sepatu yang sekarang sudah jadi maling sepatu!"
"Hey! kalau bicara dijaga dong! ayahku memang tukan sepatu. Tapi kalian tidak berhak menyebut ayahku maling. Ayahku tidak pernah mengambil barang milik oranglain," sanggahku spontan pada mereka. Aku tidak terima ayahku dihina seperti itu. Kemudian aku berlari menuju taman sekolah. Aku merasa sakit dihina seperti itu tadi. Air mataku mengalir. Aku juga tidak memiliki teman. Aku merasa sendirian. Rona, sahabatku sudah kemana dia?
Sepulang sekolah aku tidak menjumpai ibu dirumah. Biasanya ibu yang menyuruhku makan siang. Hari ini sepi sekali. Hidupku menjadi semakin sepi.
Lagi-lagi ayah pulang malam. ibu belum sampai dirumah. Sesampainya dirumah, ayah membasuh muka, kemudian mengambil handuk untuk mandi. Begitulah ayah setiap harinya. Tapi ada yang berbeda dari biasanya. Biasanya ayah menjahit sepatu-sepatu dari langgananya, tapi malam ini ayah langsung tidur.
"tok-tok-tok," suara pintu diketuk, minta dibukakan. Mungkin itu ibu. Aku bergegas membukakan pintu. Benar saja itu ibu. Tetapi ada apa ibu?
"Dimana ayahmu?" tanya ibu kepadaku.
"Tidur, bu," jawabku pelan. Aku takut ayah terganggu.
Ibu masuk dan berlangkah cepat menghampiri ayah. entah kenapa aku juga tidak tahu. Sebuah barang pecah terdengar dari dalam. Teriakan-teriakan yang tersamarkan anginnya malam bersahutan. Aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana.
Aku bingung, apakah aku harus masuk dan melerai kedua orangtuaku? atau aku harus diam disini tanpa mengerti apa yang terjadi.
Akhirnya aku masuk juga. Kulihat ayah membawa pisau di tangannya. Lantai penuh dengan kepingan barang yang telah pecah. Ibu berdiri di smaping pintu seakan-akan ingin keluar kamar. Bak kapal pecah di kamar itu. Pemandangan ini membuatku takut. Tapi aku berusaha berani.
"Ayah! apa ini semua?" hening, tidak ada yang bergerak selain aku. Kuhampiri ibu yang menangis di dekat pintu. "Ibu," kulihat ayah pergi keluar kamar tanpa menatap kami.
"Nak! ayahmu telah mencuri sepeda motor milik Pak Lurah," spontan aku lemas. Aku tidak menyangka Ayah akan melakukan hal sekeji itu. Perbuatan yang dikatakan oleh anak Genk Duby tadi memang di lakukan oleh ayahku. Aku merasa sangat malu. Ayah telah mencemarkan nama keluarga. Bagaimana aku bisa memiliki seorang teman jika ayah telah melakuka semua ini?
Kemudian, aku meninggalkan ibu. Aku berlari ke kamar dan menangis. Karena sudah malam, aku tertidur hingga pagi.
Pagi harinya aku berangkat sekolah tanpa semangat. Hanya ibu yang aku salami. Aku tidak ingin bicara dan menyapa ayah. Aku malu meiliki ayah seorang pencuri.
Seperti hari-hari sebelumnya, aku selalu sendirian di sekolah. Tidak ada yang mau menyapaku apalagi bersamaku. Aku benar-benar kesepian.
Sepulang sekolah aku mendapati ibu sedang memasak. Bau harum masakan ibu membuatku lapar. Aku segera makan. Seperti biasa, ayah pasti belum pulang. Ah apa peduliku? aku tidak punya ayah lagi.
Malam ini aku tidur agak cepat karena tidak ada tugas yang harus aku selesaikan.
Pahi harinya tidak kudapati ayah di rumah. Mungkin ayah telah berangkat bekerja. "Nak! ayah belum pulang sejak kemarin," kata ibu pelan padaku.
"Ah biarlah, ayah bukan ayahku yang dulu lagi," kataku pada ibu. "Tapi nak, ayah tetap ayahmu sampai kapanpun." "Aku tidak suka pada ayah bu! ayah membuatku tidak memiliki teman. setiap hari aku di olok-olok oleh temanku. aku malu," pagi itu kami berdebat.
Aku pergi sekolah hari itu. Sepulang sekolah aku tidak langsung menuju rumah. Akhirnya aku pulang agak malam.
Aku memasuki kamar tidurku. Kubanting tubuhku di ranjang. Kulihat kotak hitam di jendela kamarku yang masih terbuka. Aku berdiri dan mengambil kotak hitam itu. Aku buka pelan. Sebuah sepatu warna pink terlihat dari luar.
"Apa ini?" pikirku, Aku semakin penasaran. Ada secarik kertas di kotak itu. kubuka pelan-pelan.
Nak selamat ulangtahun ya. Maafkan ayah sudah membuatmu sedih karena tidak memiliki teman. Karena ayah, teman-temanmu memperolokkan kamu. Ayah memang telah mengambil sepeda motor Pak Lurah. Ayah ingin membelikan sepatu untuk sekolahmu. Karena ayah paham kamu tidak pernah memiliki sepatu baru. Hanya sepatu-sepatu bekas pelanggan ayah yang kamu pakai. Jikalau punya pun, ketika rusak ayah terus menjahitnya dengan benang tebal ayah. Ayah tau kamu merindukan sepatu baru. Ayah ingin mewujudkannya di ulangtahunmu kali ini. Tetapi hanya sepatu sebelah kanan yang dapat ayah berikan padamu. Sebenarnya ayah telah membeli sepasang sepatu. Namun, sepatu yang satu hilang ketika ayah di kejar warga. dan semoga kamu bahagia dengan sepatu ini. Maafkan ayah! Auah malu padamu nak! Sekali lagi, selamat ulangtahun nak! Semoga kamu panjang umur. Sehat selalu dan jangan menjadi seperti ayah
Air mataku mengalir membasahi pipiku kurauh sepatu itu dan kupeluk. Ayahhh...... []
Hehe... Maap ya sobat, ana lagi gaje. gak nyambung ceritanya, nggantung pula... mati lampu lagi... yuhhhh... dah dah #bersyukur am am ! #semangat
:) hihi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar