Minggu, 11 Desember 2016

Langkah Langkah Hijrah

Aku menata setiap hal yang aku butuhkan. Mulai dari peralatan sejak bangun tidur hingga aku bangun lagi. Sudah saatnya aku menjadi remaja yang mandiri. Meskipun aku tidak pernah hidup sendiri, kemah pramuka atau hal lain sebelumnya selain Mabit ketika aku masih duduk di bangku dasar tiga tahun yang lalu.

Aku memandang abiku bersama sang kekasihnya yang kucinta. Tiada harapan apapun untukku lagi selain memberikan harapan penuh sang sepasang kekasih yang mengantarku kemari lalu meninggalkanku ditempat ini.

Aku menjadi seseorang yang sendirian sekarang. Tapi aku yakin setiap yang kuputuskan sekarang telah direstui oleh Sang Maha Agung.

Ketika aku melewati lorong lorong sempit itu, ada orang tersenyum ke arahku, ada pula yang melihatku tapi tak memberikan interaksi apapun. Semua orang itu tak pernah kukenal. Baru sekarang aku menemui mereka di tempat yang lebih sempit dari alam semesta ini. Tempat yang kukira akan lebih sempit dari ini. Aku bersyukur.

Malam itu aku tidur dengan kasur yang baru. Bantal, guling, selimut, boneka doraemonku yang kemarin baru saja aku beli. Begitulah boneka yang bertahun tahun aku idam-idamkan dan baru kemarin aku dapat membelinya. Dan satu lagi. Boneka sapi pink kecil itu yang manis dan penuh cerita. Aku sering berbicara kepadanya ketika aku bahagia, sedih ataupun ketika aku marah. Setiap hari aku menciumnya karena ia begitu lucu.

Malam itu aku terbayang-bayang pada teman-teman lamaku. Sahabat-sahabatku, keluargaku, dan seorang teman hari hariku. Dan kemudian aku tertidur. Itulah malam pertamaku ditempat penuh berkah itu. Hanya boneka bonekaku yang tau apa saja yang kulakukan malam itu.

Aku mendapat makna pertama ditempat itu,
Hijrah memang berat, bukan hanya bagaikan air yang mengalir tapi bagaikan burung terbang yang harus meninggalkan banyak hal yang memberatkannya. Karena terbang itu ringan dan tanpa beban.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar